Author Archives: admin

“Belajar dengan Pendekatan Belajar Aktif (Active Learning)”

LANDASAN TEORI
Teori Belajar
1.W.H Burton
Dalam The Guidance of Learning Activities W.H. Burton (1984) mengemukakan bahwa belajar adalah proses perubahan tingkah laku pada diri individu karena adanya interaksi antara individu dengan individu dan individu dengan lingkungannya sehingga mereka lebih mampu berinteraksi dengan lingkungannya.

2. H.C. Witherington
H.C. Witherington dalam Educational Psychology menjelaskan pengertian belajar sebagai suatu perubahan di dalam kepribadian yang menyatakan diri sebagai suatu pola baru dari reaksi berupa kecakapan, sikap, kebiasaan kepribadian atau suatu pengertian.

3. Gage Berlinger
Gage Berlinger mendefinisikan belajar sebagai suatu proses di mana suatu organisme berubah perilakunya sebagai akibat dari pengalaman.

4.Harold Spears
Harold Spears mengemukakan pengertian belajar dalam perspektifnya yang lebih detail.

5. Singer
Singer mendefinisikan belajar sebagai perubahan perilaku yang relatif tetap yang disebabkan praktek atau pengalaman yang sampai dalam situasi tertentu.

6. Ernest R. Hilgard
Dalam Introduction to Psychology mendefinisikan belajar sebagai suatu proses perubahan kegiatan, reaksi terhadap lingkungan.

Teori Pendekatan Belajar Aktif (Active Learning)
1. Silberman (2007)
Pembelajaran aktif adalah belajar yang meliputi berbagai cara untuk membuat siswa aktif sejak awal melalui aktivitas-aktivitas yang membangun kerja kelompok dan dalam waktu singkat membuat mereka berpikir tentang materi pelajaran.

2. Suyatno (2009)
Pembelajaran aktif (Active Learning) merupakan salah satu pembelajaran yang melibatkan siswa dalam melakukan sesuatu dan berfikir tentang apa yang mereka lakukan.

3. Mulyasa (2004)
Mulyasa berpendapat di dalam Active Learning, setiap materi pembelajaran yang baru harus dikaitkan dengan berbagai pengetahuan dan pengalaman yang ada sebelumnya.

4. Pannen
Panne mengemukakan agar belajar aktif dapat terlaksana maka pendidik sebaiknya bekerja secara professional, mengajar secara sistematis, dan berdasarkan prinsip pembelajaran yang efektif dan efisien.
Pannen mengemukakan bahwa untuk dapat bekerja secara professional dan sistematis serta menghadirkan pembelajaran yang lebih bermakna bagi peserta didik, pendidik diharapkan mempunyai kemampuan :
a.Memanfaatkan sumber belajar di lingkungannya secara optimal dalam proses pembelajaran
b.Berkreasi dan mengembangkan ide/gagasan baru
c.Mengurangi kesenjangan pengetahuan yang diperoleh peserta didik di sekolah dengan pengetahuan yang diperoleh dari masyarakat
d.Memperjelas relevansi dan keterkaitan mata kuliah/mata pelajaran bidang ilmu dengan kebutuhan sehari-hari dalam masyarakat
e.Mengembangkan pengetahuan, keterampiulandan perilaku peserta didik secara bertahap dan utuh
f.Memberi kesempatan kepada peserta didik untuk dapat berkembang secara optimal sesuai dengan kemampuannya
g.Menerapkan prinsip-prinsip belajar aktif

5.Jackson
Jackson (2006) menyebutkan langkah-langkah untuk melaksanakan pendekatan Active Learning sebagai berikut :
a.Menghadirkan konsep umum dalam kelompok belajar
b.Informasi yang spesifik berkaitan dengan konsep diterima dari kelompok belajar
c.Aktivitas dalam kelas didominasi oleh kelompok belajar
d.Kelompok belajar mengeksplorasi tindakan dan konsekuensi-konsekuensinya selama melakukan kegiatan
e.Melakukan diskusi kelompok dan mengambil kesimpulan dari kegiatan
f.Mendiskusikan prinsip-prinsip umum
g.Penerapan dalam kehidupan yang spesifik berdasar prinsip-prinsip umum tersebut
h.Peserta didik bertindak berdasarkan apa yang telah mereka pelajari

John Holt dalam Silberman (2007), belajar semakin baik jika siswa diminta untuk melakukan hal-hal berikut:
a. Mengungkapkan informasi dengan bahasa mereka sendiri
b. Memberikan contoh-contoh
c. Mengenalnya dalam berbagai samaran dan kondisi
d. Melihat hubungan antara satu fakta atau gagasan dengan yang lain
e. Menggunakannya dengan berbagai cara
f. Memperkirakannya berapa konsekuensinya
g. Mengungkapkan lawan atau kebalikannya

PEMBAHASAN
Belajar
Belajar adalah sebuah proses yang kompleks yang di dalamnya terkandung beberapa aspek, yaitu bertambahnya jumlah pengetahuan, adanya kemampuan mengingat dan mereproduksi, ada penerapan pengetahuan, menyimpulkan makna, menafsirkan dan mengaitkannya dengan realitas, dan adanya perubahan sebagai pribadi.
Didalam proses pembelajaran terdapat masalah-masalah belajar yang ditemukan. Dalam contoh kasus ini terdapat masalah belajar yang dialami Vita Agustina seorang siswi dari SMK Negeri 10 Jakarta Timur. Masalah-masalah belajar yang dialami Vita adalah sering kurang konsentrasinya, sering merasa bosan ketika waktu belajarnya terasa lama, dan ketika sudah tidak bisa mengerjakan tugas sering sekali mudah menyerah.

Pendekatan Belajar Aktif (Active Learning)
Pendekatan Belajar Aktif (Active Learning), adalah pendekatan dalam pengelolaan sistem pembelajaran melalui cara-cara belajar yang aktif menuju belajar yang mandiri. Kemampuan belajar mandiri ini merupakan tujuan akhir dari belajar aktif (Active Learning). Active Learning dimaksudkan untuk mengoptimalkan penggunaan semua potensi yang dimilki oleh anak didik, sehingga semua anak didik dapat mencapai hasil belajar yang memuaskan sesuai dengan karakteristik pribadi yang mereka miliki. Pendekatan belajar aktif ini dapat digunakan sebagai solusi dari masalah belajar yang ditemukan.

Mengatasi Kurangnya Konsentrasi dengan Pendekatan Belajar Aktif
Pendekatan belajar aktif ini diperlukan, karena apabila siswa aktif maka siswa akan berkonsentrasi. Beberapa penelitian membuktikan bahwa perhatian siswa (anak didik) berkurang bersamaan dengan berlalunya waktu. Seperti penelitian yang dikemukakan oleh Pollio ( 1984 ) menunjukan bahwa perhatian siswa dalam ruang kelas hanya memperhatikan pelajaran sekitar 40% dari waktu pembelajaran yang tersedia. Sedangkan menurut Mc Keachie ( 1986 ) menyebutkan bahwa dalam 10 menit pertama perhatian siswa dapat mencapai 70% dan berkurang sampai menjadi 20% pada waktu 20 menit terakhir. Kondisi tersebut di atas merupakan kondisi umum yang terjadi dalam lingkungan sekolah.
Yang bisa dilakukan adalah dengan peran siswa dan guru. Guru berperan aktif sebagai fasilitator yang membantu memudahkan siswa belajar, sebagai nara sumber yang mampu mengundang pemikiran dan daya kreasi siswa, sebagai pengelola yang mampu merancang dan melaksanakan kegiatan belajar bermakna, dan dapat mengelola sumber belajar yang diperlukan. Siswa juga terlibat dalam proses belajar bersama guru karena siswa dibimbing, diajar dan dilatih menjelajah, mencari, mempertanyakan sesuatu menyelidiki jawaban atas suatu pertanyaan, mengelola dan menyampaikan hasil perolehannya secara komunikatif. Siswa juga diharapkan mampu memodifikasi pengetahuan yang baru diterima dengan pengalaman dan pengetahuan yang pernah diterimanya.

Mengatasi Kebosanan Saat Belajar dengan Pendekatan Belajar Aktif
Kebosanan saat belajar sering sekali ditemukan dalam proses pembelajaran, maka dari itu dalam hal ini guru dituntut untuk dapat berkreasi dan menumbuhkan proses belajar aktif dalam pembelajaran yang dibinanya. Kreativitas guru memang sangat diperlukan, dan siswa dituntut untuk beperan aktif. Belajar aktif dapat dilakukan dalam satu mata pelajaran saja atau bahkan satu pokok bahasan saja, tanpa harus tergantung pada mata pelajaran lain atau pokok bahasan lain.
Guru perlu mengembangkan berbagai kegiatan belajar yang melibatkan siswa secara aktif dalam kegiatan yang menantang kreativitas siswa yang sesuai dengan karakteristik pelajaran dan karakteristik siswa. Siswa dapat ikut mencari materi, diselah-selah pelajaran bisa diajak untuk bemain didalam permainan tetapi masih dalam konteks pembelajaran.
Active Learning pada dasarnya.berusaha untuk memperkuat dan memperlancar Stimulus yang diberikan guru dan respons anak didik dalam pembelajaran, sehingga proses pembelajaran menjadi suatu hal yang menyenangkan tidak menjadi hal yang membosankan bagi mereka.
Belajar aktif memperkenalkan cara pengelolaan kelas yang beragam tidak hanya berbentuk kegiatan belajar klasikal saja. Kegiatan belajar klasikal (ceramah) masih tetap digunakan agar guru dapat memberi penjelasan tentang materi pelajaran dengan jelas dan baik. Namun kegiatan belajar klasikal bukan merupakan satu-satunya model pengelolaan kelas. Masih banyak bentuk kegiatan lainnya seperti belajar kelompok, kegiatan belajar berpasangan, dan kegiatan belajar perorangan.
Masing-masing bentuk kegiatan mempunyai keunggulan dan kelemahan masing-masing. Guru perlu memilih bentuk kegiatan yang paling tepat berdasarkan tujuan intruksional kegiatan yang telah ditetapkan. Bentuk kegiatan yang dipilih hendaknya mampu merangsang siswa untuk aktif secara mental, sekaligus mancapai tujuan itruksional yang ditetapkan. Belajar aktif mensyaratkan pemanfaatan sumber belajar yang beraneka ragam secara optimal dalam proses belajar. Sumber belajar yang dapat dimanfaatkan tidak hanya terbatas pada sumber belajar yang ada di lingkungan sekolah saja, seperti guru, teman, laboratorium, studio, perpustakaan saja. Namun juga pada sumber belajar yang ada di luar sekolah, seperti komunitas masyarakat, objek/ tempat tertentu media, gejala alam, narasumber setempat seperti pemuka agama dan pemuka adat. Pemanfaatan sumber belajar yang beraneka ragam secara optimal merupakan titik tolak kegiatan pembelajaran yang bervariasi dan menantang siswa.
Melalui pendekatan belajar aktif, siswa diharapkan akan mampu mengenal dan mangembangkan kapasitas belajar dan potensi yang mereka miliki. Di samping itu siswa secara penuh dan sadar dapat menggunakan potensi sumber belajar yang terdapat di lingkungan sekitarnya, lebih terlatih untuk berprakarsa, berpikir secara sistematis, kritis dan tanggap, sehingga dapat menyelesaikan masalah sehari-hari melalui penelusuran informasi yang bermakna baginya.

Mengatasi Kurangnya Pemahaman Saat Belajar dengan Pendekatan Belajar Aktif
Active Learning pada terhadap siswa dapat membantu ingatan (memori) mereka, sehingga mereka dapat menuju tujuan pembelajaran dengan sukses. Dalam Active Learning setiap materi pelajaran yang baru harus dikaitkan dengan berbagai pengetahuan dan pengalaman yang ada sebelumnya. Materi pelajaran yang baru disediakan secara aktif dengan pengetahuan yang sudah ada. Agar siswa dapat belajar secara aktif guru perlu menciptakan strategi yang tepat, sehingga peserta didik mempunyai motivasi yang tinggi untuk belajar.
Dalam mengatasi kurangnya konsentrasi, kebosanan, dan kurangnya pemahaman salaing berkaitan. Guru dituntuk untuk kreatif agar siswa dapat berkonsentrasi, tidak bosan, dan memahami pelajaran. Siswa juga dituntut untuk aktif.

Langkah-langkah
Langkah-langkah untuk melaksanakan pendekatan Active Learning menurut Jackson adalah:
a.Menghadirkan konsep umum dalam kelompok belajar
b.Informasi yang spesifik berkaitan dengan konsep diterima dari kelompok belajar
c.Aktivitas dalam kelas didominasi oleh kelompok belajar
d.Kelompok belajar mengeksplorasi tindakan dan konsekuensi-konsekuensinya selama melakukan kegiatan
e.Melakukan diskusi kelompok dan mengambil kesimpulan dari kegiatan
f.Mendiskusikan prinsip-prinsip umum
g.Penerapan dalam kehidupan yang spesifik berdasar prinsip-prinsip umum tersebut
h.Peserta didik bertindak berdasarkan apa yang telah mereka pelajari

Menurut John Holt dalam Silberman, belajar semakin baik jika siswa diminta untuk melakukan hal-hal berikut:
a. Mengungkapkan informasi dengan bahasa mereka sendiri
b. Memberikan contoh-contoh
c. Mengenalnya dalam berbagai samaran dan kondisi
d. Melihat hubungan antara satu fakta atau gagasan dengan yang lain
e. Menggunakannya dengan berbagai cara
f. Memperkirakannya berapa konsekuensinya
g. Mengungkapkan lawan atau kebalikannya
Pembelajaran aktif yang dimaksud adalah langkah-langkah atau rencana yang mengajak siswa untuk belajar secara aktif dalam setiap pembelajaran dengan menggunakan otak/pikiran, baik untuk menemukan ide pokok dari materi pelajaran, memecahkan persoalan atau mengaplikasikan apa yang baru mereka pelajari ke dalam suatu persoalan yang ada dalam kehidupan nyata.
Belajar Aktif menuntut guru bekerja secara profesional, mengajar secara sistematis, dan berdasarkan prisip-prisip pembelajara yang efektif dan efisien. Artinya guru dapat merekayasa sistem pembelajaran yang dilaksanakan secara sistematis dan menjadikan proses pembelajaran sebagai pengalaman yang bermakna bagi siswa.
Untuk itu guru diharapkan memiliki kemampuan untuk:
a.Memanfaatkan sumber belajar di lingkungannya secara optimal dalam proses pembelajaran.
b.Berkreasi mengembangkan gagasan baru.
c.Mengurangi kesenjangan pengetahuan yang diperoleh siswa dari sekolah dengan pengetahuan yang diperoleh dari masyarakat.
d.Mempelajari relevansi dan keterkaitan mata pelajaran bidang ilmu dengan kebutuhan sehari-hari dalam masyarakat.
e.Mengembangkan pengetahuan, ketrampilan, dan prilaku siswa secara bertahap dan utuhf. Memberi kesempatan pada siswa untuk dapat berkembang secara optimal sesuai dengan kemampuannya.
g.Menerapkan prinsip-prinsip belajar aktif.

Belajar aktif dapat dilakukan dalam satu mata pelajaran saja atau bahkan satu pokok bahasan saja, tanpa harus tergantung pada mata pelajaran lain atau pokok bahasan lain. Yang perlu menjadi acuan dalam setiap kondisi adalah tujuan intruksional yang akan dicapai dalam proses belajar aktif.
Strategi yang dapat digunakan guru untuk mencapai tujuan tersebut antara lain adalah :
a.Refleksi
Guru dapat meminta siswa untuk secara berkala merefleksikan hal-hal yang telah dipelajarinya dalam pembelajaran. Contohnya: melalui jurnal opinion paper .
b.Pertanyaan Siswa (Anak didik)
Untuk setiap pokok bahasan atau pertemuan, guru memberi tugas siswa untuk menuliskan pertanyaan-pertanyaan tentang hal-hal yang belum dipahami, atau hal-hal yang perlu dibahas bersama guru dan teman-teman siswa lainnya.
c.Rangkuman
Guru dapat membiasakan siswa untuk membuat rangkuman terhadap hasil disuksi kelompok yang dilakukan dikelas atau sebagai tugas mandiri. Selain itu rangkuman tersebut juga dapat merupakan tugas untuk mengevaluasi/menilai sesuatu seperti buku, artikel, majalah dan lain-lain berdasarkan prinsip-prinsip yang telah dipelajarinya dalam pembelajaran.
d.Pemetaan Kognitif
Pemetaan kognitif adalah alat untuk membuat siswa aktif belajar tentang konsep-konsep (reposisi) dan skemanya. Pemetaan kognitif juga dapat digunakan untuk menumbuhkan proses belajar aktif siswa. Untuk dapat merancang kegiatan yang melibatkan siswa secara aktif dan menantang siswa secara intelektual, diperlukan guru yang mempunyai kreativitas dan profesionalisme yang tinggi.

Kelebihan dan Kelemahan Pendekatan Belajar Aktif
Kelebihan dalam penerapan pendekatan Active Learning.
a.Peserta didik lebih termotivasi
Pendekatan Active Learning memungkinkan terjadinya pembelajaran yang menyenangkan. Suasana yang menyenangkan merupakan faktor motivasi untuk peserta didik. Lebih mudah menyampaiakan materi ketika peserta didik menimatinya. Dengan melakukan hal yang sedikit berbeda, peserta didik akan lebih termotivasi untuk berpartisipasi dalam pembelajaran
b.Partisipasi oleh seluruh kelompok belajar
Peserta didik merupakan bagian dari rencana pelajaran. Informasi tidak diberikan pada peserta didik, tetapi peserta didik mencarinya. Beberapa kegiatan mungkin membutuhkan kekuatan, kecerdasan, dan beberapa yang lain mungkin membutuhkan peserta didik untuk menjadi bagiannya. Semua mempunyai tempat dan berkontribusi berdasarkan karakteristik masing-masing.
c.Setiap orang bertanggungjawab dalam kegiatan belajarnya sendiri
Setiap orang bertanggungjawab untuk memutuskan apakah sesuatu hal tepat untuk mereka. Setiap orang dapat menginterpretasikan tindakan-tindakan untuk mereka sendiri dan mengaplikasikannya sesuai dengan kondisi mereka.

Kelemahan-kelemahan dalam penerapan pendekatan Active Learning.
a.Keterbatasan waktu
Waktu yang disediakan untuk pembelajaran sudah ditentukan sebelumnya, sehingga untuk kegiatan pembelajaran yang memakan waktu lama akan terputus menjadi dua atau lebih pertemuan.
b.Kemungkinan bertambahnya waktu untuk persiapan
Waktu yang digunakan untuk persiapan kegiatan akan bertambah, baik waktu untuk merancang kegiatan maupun untuk mempersiapkan agar peserta didik siap untuk melakukan kegiatan.
c.Ukuran kelas yang besar
Kelas yang memunyai jumlah peserta didik yang relatif banyak akan mempersulit terlaksananya kegiatan pembelajaran dengan Active Learning. Kegiatan diskusi tidak akan dapat memperoleh hasil yang optimal.

Sumber:
Siregar, Eveline dan Hartini Nara (2010), Teori Belajar dan Pembelajaran, Jakarta: Universitas Negeri Jakarta

http://sditalqalam.wordpress.com/2008/01/09/strategi-pembelajaran-active-learning/

http://heheoye.wordpress.com/2011/06/22/active-learning-suatu-pendekatan-dalam-pembelajaran/